Teknologi untuk Atasi Tantangan Pengiriman E-commerce Lintas Negara

Teknologi untuk Atasi Tantangan Pengiriman E-commerce Lintas Negara

KAWASAN Asia Tenggara siap melompati China untuk menjadi kawasan ekonomi digital dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Dengan dukungan 250 juta basis pelanggan, ada kebutuhan yang akan datang di kawasan ini untuk mempercepat tujuan transformasi digital dari ekonomi domestik ke ekonomi internasional.

Karena penetrasi internet dan smartphone yang tinggi, meningkatnya lalu lintas e-commerce lintas batas, dan portofolio barang online yang berkembang di berbagai saluran digital, kawasan ini akan mencapai nilai e-commerce 360 miliar dolar AS tahun 2025.

Meningkatnya permintaan untuk e-commerce lintas batas akan memberikan tekanan luar biasa pada jaringan rantai pasokan global. Produsen, penyedia e-commerce, dan pengecer akan bermitra dengan beberapa penyedia layanan logistik untuk memastikan kepatuhan SLA (service level agreement/perjanjian tingkat layanan), efisiensi biaya, dan kelincahan pengiriman.

Baca juga:

 

Selain itu ada juga kebutuhan mendesak bagi bisnis di wilayah ini untuk membuat operasi logistik yang berpusat pada pelanggan. Menurut penelitian, 34 persen konsumen di Asia Tenggara tidak senang dengan pengalaman pengiriman e-commerce mereka, sementara lebih dari 90 persen keluhan pelanggan terkait dengan pengiriman yang terlambat dan komunikasi yang buruk tentang status pengiriman.

Sejumlah tantangan

 

Tantangan dalam pengiriman e-cmmerce lintas batas tersebar di seluruh proses inefisiensi yang membuat pengiriman dan biaya dan urusan padat karya. Sayangnya, investasi besar dalam jam kerja dan modal masih belum menjamin pengalaman pengiriman yang lancar.

Terdapat beberapa jenis tantangan dalam logistik lintas batas dan dapat diklasifikasikan berdasarkan tiga tahap pengiriman, yaitu pra-pengiriman, pelaksanaan pengiriman, dan pasca-pengiriman.

Tantangan tahap pra-pengiriman yang umum terdiri dari memilih jalur pengiriman, mendapatkan penawaran dari pengirim barang, berkomunikasi dengan pembeli, dan menyortir dokumen melalui email. Tahap ini rentan terhadap kebocoran biaya besar, sebagian besar karena negosiasi manual, kurangnya wawasan tentang harga pasar saat ini, dan komunikasi yang memakan waktu melalui email.

Pasca pengadaan barang, eksekusi pengiriman dimulai. Ini mencakup pengangkutan ekspor, bea cukai, penanganan dokumentasi, dan yang paling penting pelacakan pengiriman. Proses manual dan kurangnya visibilitas atas status pengiriman merupakan kemunduran besar pada tahap ini. Tidak adanya pandangan terpusat tentang kemajuan pengiriman membuat rantai pasokan menjadi reaktif dan bukannya proaktif.

Manfaatkan platform teknologi

 

Platform teknologi manajemen logistik dapat mengatasi berbagai tantangan terkait pengiriman sehingga pengiriman e-commerce lintas batas menjadi efisien, terukur, dan lebih transparan.

Disclaimer: Konten dan gambar berasal dari sumber money.kompas.com.
Jika anda keberatan silakan ajukan penghapusan artikel dengan menghubungi kami melalui email Tim Berita Link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.