Teknologi terkini padamkan karhutla – ANTARA News

Teknologi terkini padamkan karhutla – ANTARA News

jangan membuat api membesar. Api kecil segera padamkan

Palembang (ANTARA) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga kini masih mengintai meskipun berbagai upaya sudah dilakukan oleh para pemangku kepentingan di Tanah Air.

Penyebabnya tak lain karena Indonesia yang memiliki areal gambut terluas kedua di dunia dengan total 22 juta hektare.

Namun, negeri ini tentunya belajar dari pengalaman silam terutama pada saat mengalami karhutla hebat pada 2015 yang terjadi di lima provinsi yang mengakibatkan terbakarnya areal seluas 2,6 juta hektare hingga bencana kabut asap selama berbulan-bulan.

Kini langkah-langkah mitigasi dan antisipasi lebih dikedepankan dibandingkan penindakan, dan salah satu provinsi yang cukup getol dalam mitigasi karhutla yakni Sumatera Selatan.

Daerah yang memiliki areal hutan, kebun dan gambut dengan total 9 juta hektare ini bahkan telah menetapkan status Siaga Karhutla sejak 9 April 2022.

Dengan ditetapkan lebih awal membuat Satuan Tugas Karhutla dapat bekerja lebih awal dalam mengamankan 1,2 juta hektare lahan gambut di daerah tersebut.

“Kuncinya jangan membuat api membesar. Api kecil segera padamkan,” kata Gubernur Sumsel Herman Deru setelah kegiatan Apel Siaga Karhutla di Palembang, 22 Juni 2022

Untuk menghadapi karhutla pada tahun ini, Sumsel menyiapkan ribuan personel perwakilan dari TNI/Polri, KLHK, BPBD, Manggala Agni, Regu Pemadam Kebakaran (RPK) hingga masyarakat peduli api (MPA).

Selain itu juga sarana dan prasaran di antaranya setidaknya empat unit helikopter patroli, empat unit helikopter pembom air, kendaraan operasional, kendaraan pemadam, mesin pompa hingga peralatan komunikasi.

Pemprov juga sudah menyalurkan bantuan sarana dan prasarana penanganan karhutla ke 10 kabupaten yang terbilang rawan terhadap bencana dengan nilai nominal masing-masing Rp5 miliar.

Dengan bantuan itu diharapkan satgas karhutla di tingkat kabupaten/kota dapat lebih optimal dalam bekerja.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Iriansyah mengatakan setelah penetapan status siaga karhutla pada 9 April-November 2022, Sumsel segera menyiapkan personel dan peralatan di 12 kabupaten/kota.

Saat ini pihaknya sudah mengajukan bantuan unit helikopter patroli dan pembom air (water bombing) ke BPBD Pusat untuk memperkuat sarana dan prasarana kesiapan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2022.

Kepala BPBD Sumsel Iriansyah mengatakan pihaknya telah mengajukan kebutuhan ke BPBD Pusat sebanyak empat unit helikopter patroli dan empat unit helikopter pembom air.

Helikopter memang sangat dibutuhkan untuk menjangkau daerah-daerah pelosok yang tidak dapat dijangkau oleh personel Satgas Darat Karhutla.

Sebagai daerah yang memiliki tingkat kerawanan bencana karhutla, Sumsel mengharapkan kebutuhan unit helikopter itu dapat diprioritaskan agar kegiatan mitigasi karhutla dapat lebih optimal.

Upaya mitigasi akan lebih dikedepankan seperti pengalaman tahun-tahun sebelumnya.

Sejauh ini titik api (hotspot) masih belum ditemukan di 12 kabupaten/kota di Sumsel karena masih terjadi hujan dalam beberapa pekan terakhir.
¹
Walau demikian, Sumsel tetap meningkatkan kewaspadaan karena memiliki areal perkebunan, pertanian dan gambut yang cukup luas dengan total mencapai 9 juta hektare.

Menurut Iriansyah, potensi kebakaran hutan dan lahan itu ada di desa, oleh karena itu penting sekali peran satgas di sini berkolaborasi dengan masyarakat.

Sumsel menjadi satu dari tiga provinsi di Sumatera yang dinilai BPBD rawan mengalami karhutla. Dua lainnya, Jambi dan Riau.
 

Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru (ketiga kanan) didampingi Kapolda Sumatera Selatan Irjen Pol Toni Harmanto (kanan) meninjau peralatan pemadam kebakaran hutan dan lahan saat apel kesiapsiagaan personel dan peralatan penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Sumatera Selatan di Griya Agung Palembang, Rabu (22/6/2022). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Direktur Pengelolaan dan Peralatan Logistik BNPB Rustian dalam kesempatan yang sama mengatakan pihaknya akan mengirimkan kebutuhan unit helikopter secara bertahap ke Sumsel.

Bukan hanya kebutuhan Satgas Udara Karhutla, pihaknya juga memperkuat Satgas Darat.

Belajar dari tahun-tahun sebelumnya, betapa mitigasi menjadi lebih penting dibandingkan penindakan. Walau tahun ini kemarau basah tapi tetap harus waspada, pada prinsipnya dana pemerintah tersedia untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Teknologi terbaru

Jumlah titik api (hotspot) yang penyebab terjadinya karhutla terus berkurang di Sumsel dalam beberapa tahun terakhir, yang diyakini karena semakin baiknya sistem penanggulangan karhutla dan juga adanya faktor cuaca kemarau basah.

Berdasarkan data BPBD Sumsel dapat teramati per Agustus 2019 tercatat 1.308 titik api tapi pada bulan yang sama tahun 2020 tercatat 1.121 titik api. Sedangkan pada 2021 diketahui jumlah titik api (hotspot) jauh lebih menurun hanya 396.

Titik api itu tersebar di 10 kabupaten/kota Sumsel, yakni Kabupaten Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Ogan Komering Ulu (OKU), dan OKU Timur.

Dari 10 kabupaten tersebut, terdapat tiga kabupaten yang dinilai paling rawan yakni Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin dan Ogan Ilir.

Fire Operation Management Sinar Mas Kabupaten Ogan Komering Ilir Mares Prabadi mengatakan pihaknya melakukan berbagai upaya untuk menangani karhulta.

Bukan hanya menyiagakan ratusan personel Regu Pemadam Kebakaran (RPK) di tiga perusahaan mitra APP Sinar Mas dan sarana dan prasarana tapi juga teknologi terbaru dalam penanganan karhutla.

Salah satu yang menjadi andalan yakni keberadaan Pusat Kendali ‘Situation Room’ yang tersebar di 17 lokasi di Ogan Komering Ilir.

Di pusat kendali ini data hotspot dari satelit dapat diperoleh secara realtime (24 jam) sehingga dapat memudahkan semua sumber untuk saling berkoordinasi dan mengambil langkah paling efektif dalam pendeteksian dini kebakaran hutan dan lahan.

Situation Room ini terhubung ke semua sumber daya, termasuk ke Heli Attack Crew, yakni personel yang bisa diterjunkan langsung ke titik api dari helikopter patroli saat didapati adanya hotspot.

Data realtime hotspot itu dapat diperoleh karena sistem menggunakan teknologi mutakhir yakni mengambil data dari Geospasial Information System (GIS) yang dipadukan dengan data yang diambil secara langsung melalui pesawat udara yang dilengkapi alat canggih kamera geothermal.

Perpaduan data ini diharapkan dapat meningkatkan akurasi dan kecepatan pendeteksian titik api, atau tidak seperti sebelum 2015, yang mana data hotspot diperoleh dari satelit sehingga ada waktu delay saat informasi pertama diterima hingga sampai ke petugas di lapangan.

Melalui teknologi baru ini maka sejak informasi awal ditangkap kamera geothermal maka hanya butuh waktu dua menit untuk terdistribusi ke pusat pemantauan di distrik perkebunan.

Untuk mendukung keakuratan data ini, pesawat Cessna yang membawa kamera geothermal itu akan terbang mengelilingi konsesi pemasok Asia Pulp And Paper di wilayah Sumatera selama 6 jam per hari dengan memakai peta skala prioritas fire danger rating system (FDRS).

Peta FDRS ini diperoleh dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang dikombinasikan dengan data Automatic Weather System (AWS) yang ada tiap distrik perkebunan hutan tanam industri.

Dalam peta ini akan diketahui tingkat kelembapan, arah angin, temperatur, tekanan udara sehingga situasi terkini di areal konsesi dan di luar konsesi dapat terpantau secara aktual.

Selain itu, perusahaan juga memanfaatkan aplikasi Fire Hazard Rating System untuk melihat secara mikro wilayah konsesi sehingga dapat menjadi data awal kondisi terkini di lapangan, semisal kondisi muka air di kanal.

Terbaru, mitra pemasok Sinar Mas tahun ini menggunakan tiga unit drone UAV Fixed Wing Flying Dragon untuk memantau lokasi-lokasi yang sulit dijangkau hingga radius 10 kilometer dari stasiun pemantau.

“Tiga unit drone ini juga diterbangkan setiap hari layaknya helikopter patroli tapi dikhususkan untuk meng-cover wilayah tertentu yang tidak terawasi oleh helikopter patroli,” kata dia.

Jangan pernah sepelekan api yang kecil, karena jika api tersebut di lahan gambut maka dalam hitungan detik sudah mencapai puluhan kilometer.

Adanya penggunaan teknologi terkini harus terus dilakukan karena hanya dengan cara itu setidaknya manusia dapat lebih tepat sasaran dalam upaya mitigasi.

Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2022

Disclaimer: Konten dan gambar berasal dari sumber www.antaranews.com.
Jika anda keberatan silakan ajukan penghapusan artikel dengan menghubungi kami melalui email Tim Berita Link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.