Siap-siap Gelombang Ketiga Covid-19, Menkes: Puncak Gelombang Omicron Pertengahan Februari

Siap-siap Gelombang Ketiga Covid-19, Menkes: Puncak Gelombang Omicron Pertengahan Februari

Beritalink.com – Varian Omicron ini diyakini lebih cepat menular dibanding varian yang ada sebelumnya. Puncak infeksi kasus varian Omicron di Indonesia diperkirakan terjadi pada pertengahan Februari.

Jakarta sendiri menurut Epidemiolog Universitas Indonesia Tri Yunis Miko Wahyono dikutip dari kompas.com, berpotensi menghadapi gelombang ketiga Covid-19, apalagi dengan kasus penularan virus corona varian Omicron di tengah masyarakat.

“Tanpa Omicron pun ada (potensi gelombang ketiga), apalagi dengan Omicron,” tutur Miko, Senin (10/1/2022).

Senada dengan Epidemiolog, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan berdasarkan data Kementerian Kesehatan, rata-rata jumlah hari sejak kasus naik hingga mencapai puncak di tiga negara itu adalah 38 hari.

“Pertengahan Februari peak-nya,” ujar Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam pertemuan dengan pemimpin redaksi media massa, Senin (10/1).

Perkiraan tersebut berdasarkan pada kondisi yang telah terjadi di sejumlah negara, seperti Zambia, UK, dan Afrika Selatan.

Kasus Omicron pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan yaitu pada 2 November 2021. Pada 8 November 2021, kasus mulai naik, dan mencapai puncaknya pada 19 Desember 2021 tahun lalu berselang 42 hari saat awal terdeteksi.

Kemudian di UK kasus Omicron pertama kali terdeteksi pada 27 November 2021. Kenaikan kasus mulai terjadi di negara itu pada 8 Desember 2021, dan kemudian memuncak pada 4 Januari 2022 atau 37 hari sejak ditemukannya kasus pertama.

Selanjutnya, Zambia. Omicron masuk ke negara itu pada 30 November 2021. Kasus tersebut mulai menyebar dan naik di negara itu pada 2 Desember 2021, dan mencapai puncaknya pada 4 Januari 2022 yaitu sekitar 34 hari.

“Kalau lihat tren di negara-negara itu, sejak kasus pertama muncul sampai puncak, di atas 30-an hari. Hitungan kami, puncak kasus di kita terjadi di pertengahan Februari. Akhir Maret sudah hilang,” jelas Menkes.

Namun Menkes menghimbau agar tidak panik dan tak perlu khawatir karena risikonya relatif lebih rendah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.