Psikolog Bisa Bantu Stop Stigmatisasi TB, Hapus Diskriminasi di Masyarakat

Psikolog Bisa Bantu Stop Stigmatisasi TB, Hapus Diskriminasi di Masyarakat

Di DIY khususnya Sleman, salah satu misi penanganan TB adalah Bebas TB pada 2030. Ini merupakan langkah mewujudkan Indonesia Bebas TB tahun 2050. Salah satu upaya yang dilakukan Kabupaten Sleman untuk mewujudkan DIY Bebas TB 2030 adalah mempersiapkan tenaga psikolog untuk menghapus stigma yang ada.

“Kalau kita bisa bersama-sama menanggulangi TB ini dengan semakin banyak kekuatan mudah-mudahan eliminasi TB di tahun 2030 ini bisa terwujud, tidak hanya di Sleman tapi di seluruh Indonesia.” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sleman, dr. Cahya Purnama.

Cahya menjelaskan, psikolog berperan penting dalam pengendalian TB. Mulai dari prevetif dan promotif dengan mencegah kelompok rentan tertular TB. Lalu kuratif untuk memberi konseling kepatuhan pengobatan TB bagi pasien dan keluarga. Serta rehabilitatif dengan menjaga kesehatan jiwa pasca pemulihan TB.

Untuk mengimplementasikannya, psikolog perlu menguasai pengetahuan dasar tentang TB, pencegahan, penularan, dan kenapa pasien TB perlu didampingi. Kemudian disiplin dalam etika dan bekerja dalam tim dengan selalu melakukan penyegaran informasi. Psikolog juga perlu bekerja sesuai profesi dengan melakukan asesmen psikologi.

Arum Sukma Kinasih yang merupakan penyintas TB juga berbagi pengalaman tentang pentingnya penanganan psikologis bagi pasien TB. Arum yang juga seorang psikolog klinis sempat mengalami kecemasan dan ketakutan ketika menghadapi penyakitnya.

Menurut Arum, psikolog sangat penting dalam penanganan TB terutama dalam proses penerimaan diri. Intervensi psikolog juga penting untuk persiapan pasca bersih dari TB dan mengurangi risiko tertular kembali.

Melalui dampingan psikolog, pasien akan lebih kuat menjalani proses pengobatan yang panjang dan mendapat pemahaman risiko resistensi. Jika TB tulang belakang butuh terapi operasi, dan meningkatkan daya tahan tubuh ketika proses pengobatan dampingan secara psikologis sangat krusial.

“Semua dokter, obat, orang tua, itu adalah supporter kamu, tapi yang bisa menyembuhkan itu adalah diri kamu sendiri, itu adalah kata-kata yang membuat oke saya harus sembuh.” ujar Arum.

Psikolog juga dibutuhkan untuk membantu menghadapi stigma ketika sakit dan pasca sakit. Psikolog terutama penting memberi dukungan dari perspektif keahlian yang tidak dimiliki oleh keluarga lingkungan sekitar.

Disclaimer: Konten dan gambar berasal dari sumber resmi.
Jika anda keberatan silakan ajukan penghapusan artikel dengan menghubungi kami melalui email Tim Berita Link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.