Bisnis  

Dulu Sopir Angkot, Prajogo Pangestu Kini Berharta Rp 73 T

Dulu Sopir Angkot, Prajogo Pangestu Kini Berharta Rp 73 T

Jakarta

Prajogo Pangestu merupakan salah satu orang terkaya di Indonesia. Pada zaman Presiden kedua Soeharto, dia menjadi konglomerat yang disegani di Indonesia.

Jika ditarik dari sebelum kesuksesannya, siapa sangka jika pria kelahiran 13 Mei 1944 di Sambas, Kalimantan Barat itu dulunya hanya seorang sopir angkutan kota (angkot). Terlahir dari keluarga miskin, mengharuskan dirinya hanya menamatkan sekolah sampai tingkat menengah pertama (SMP) saat itu.

Kehidupannya berbanding terbalik dengan saat ini di mana Prajogo Pangestu telah menjadi orang terkaya ke-5 di Indonesia. Dilansir dari Forbes, Jumat (17/6/2022), harta bersihnya saat ini mencapai US$ 5 miliar atau setara Rp 73 triliun (kurs Rp 14.600).

Putra seorang pedagang karet itu memiliki kisah panjang dalam merintis karirnya. Sempat merantau ke Jakarta untuk mengubah nasib, tetapi belum beruntung karena tak kunjung mendapat pekerjaan dan memutuskan balik ke kampung halaman.

Saat kembali itulah, Prajogo Pangestu bekerja menjadi sopir angkot. Dari profesi itu dia bertemu dan mengenal pengusaha kayu asal Malaysia, Bon Sun On alias Burhan Uray pada tahun 1960-an.

Dari situ karir Prajogo Pangestu dimulai, ikut Burhan Uray di PT Djajanti Group pada 1969. Berkat kerja keras dan kegigihannya, dia kemudian dipercaya menjadi general manager (GM) di pabrik Plywood Nusantara, Gresik, Jawa Timur setelah tujuh tahun bekerja.

Jabatan itu hanya setahun diembannya dan Prajogo Pangestu memilih memulai bisnis sendiri dengan membeli CV Pacific Lumber Coy yang ketika itu sedang mengalami kesulitan keuangan. Dia membayarnya dengan uang pinjaman dari bank.

Dalam perjalanannya, Prajogo Pangestu mengganti nama Pacific Lumber jadi PT Barito Pacific. Kemudian bisnisnya terus meningkat hinga mulai go public pada 1993.

Gurita bisnis Prajogo Pangestu tidak hanya di industri perkayuan, bisnisnya meluas ke bidang petrokimia, minyak sawit mentah, hingga properti. Pada 2007 Barito Pacific mengakuisisi 70% dari perusahaan petrokimia Chandra Asri, yang juga diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Lalu 2011 Chandra Asri bergabung dengan Tri Polyta Indonesia dan menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia. Thaioil mengakuisisi 15% saham Chandra Asri pada Juli 2021. Mereka disebut akan memulai mengembangkan situs petrokimia kedua pada 2022.

Gebrakan terbaru dari Prajogo Pangestu baru-baru ini adalah membeli 33,33% saham Star Energy dari BCPG Thailand seharga US$ 440 juta atau sekitar Rp 6,29 triliun (kurs Rp 14.300/dolar AS). Kabarnya, dia membeli melalui salah satu perusahaan swasta yang dimiliki, Green Era.

Prajogo Pangestu sendiri memiliki saham di Star Energy sebesar 66,6%. Oleh sebab itu, melalui akuisisi 33,33% saham tersebut, kini dirinya mempunyai kepemilikan penuh atas Star Energy yang memiliki tiga proyek panas bumi di Indonesia.

Tiga proyek panas bumi Star Energy yang dimaksud adalah PLTP Wayang Windu, PLTP Salak, dan PLTP Darajat di mana semuanya berada di Provinsi Jawa Barat.

(aid/dna)

Disclaimer: Konten dan gambar berasal dari sumber news.google.com.
Jika anda keberatan silakan ajukan penghapusan artikel dengan menghubungi kami melalui email Tim Berita Link

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.